Jumat, 31 Mei 2024



FESTIVAL NGARAK PERTAMA KALI
UNDANG SELURUH MARGA SE LAMPUNG

Kebudayaan suatu bangsa merupakan indikator dan mencirikan tinggi atau rendahnya martabat dan peradaban. Kebudayaan tersebut dibangun oleh berbagai unsur, seperti bahasa, sastra dan aksara, kesenian dan berbagai sistem nilai yang tumbuh dan berkembang dari masa ke masa. Kebudayaan Nasional kita dibangun atas berbagai kebudayaan daerah yang beragam warna dan corak, sehingga merupakan satu rangkaian yang harmonis dan dinamis, oleh karena itu tidak disangkal bahwa bahasa, sastra, aksara daerah, kesenian dan nilai-nilai budaya daerah merupakan unsur penting dari kebudayaan yang menjadi rangkaian kebudayaan nasional. Nilai-nilai dan cirri budaya kepribadian bangsa merupakan faktor strategis dalam upaya mengisi dan membangun jiwa, wawasan dan semangat Bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Kebudayaan Lampung yang merupakan bagian dari budaya nasional dan sekaligus sebagai asset nasional memiliki sejumlah nilai dan norma sosial budaya yang melandasi pemikiran dan prilaku warganya. Berbagai ungkapan tradisional yang merupakan falsafah hidup yaitu : Piil Pesinggiri, Sakai Sembayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur dan Bejuluk Beadok merupakan contoh gambaran hidup masyarakat yang memiliki nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang luhur dan sangat penting untuk dipelihara, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus dan harus dipertahankan keberadaannya walaupun terjadi perubahan global.
Berdasarkan hal-hal sebagaimana tersebut diatas, dan mengingat kebudayaan Lampung termasuk didalamnya adat istiadat, falsafah hidup, sejarah, peristiwa sejarah lokal dan sejarah daerah serta benda-benda yang bernilai budaya merupakan kebanggaan daerah yang mencerminkan jati diri masyarakat, perlu dilakukan serangkain upaya-upaya dalam rangka memelihara, melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Lampung yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan peranan nilai-nilai budaya tersebut dan lembaga adat di daerah dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan, kelangsungan pembangunan dan peningkatan ketahanan nasional, serta mendorong upaya mensejahterkan warga masyarakat setempat sekaligus menunjang dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk turut serta bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara kebudayaan daerah.       
Masyarakat lampung mengenal berbagai macam upacara-upacara tradisional sebagai media penanaman nilai-nilai filosofis masyarkat Lampung yakni Piil Pesinggiri, Sakai Sembayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur dan Bejuluk Beadok. Penanaman nilai-nilai filosofis tersebut kepada generasi muda adalah hal yang sangat penting untuk dilaksanakan agar nilai-nilai luhur tersebut segera terwariskan di lingkungan generasi muda.








Salah satu upaya penanaman nilai-nilai filosofis kepada generasi muda ialah dengan pelaksanaan Festifal Ngarak. Dimana ngarak adalah salah satu prosesi begawi yang terdiri dari arak-arakan atau iring-iringan menghantar pengantin atau tamu agung menuju sesat atau tempat acara, yang dilengkapi dengan properti adat seperti pencak silat, tetabuhan, pedang tombak dan payung agung.

Jumat, 29 Juli 2022



FESTIVAL NGARAK LAMPUNG 

 
Kebudayaan suatu bangsa merupakan indikator dan mencirikan tinggi atau rendahnya martabat dan peradaban. Kebudayaan tersebut dibangun oleh berbagai unsur, seperti bahasa, sastra dan aksara, kesenian dan berbagai sistem nilai yang tumbuh dan berkembang dari masa ke masa. Kebudayaan Nasional kita dibangun atas berbagai kebudayaan daerah yang beragam warna dan corak, sehingga merupakan satu rangkaian yang harmonis dan dinamis, oleh karena itu tidak disangkal bahwa bahasa, sastra, aksara daerah, kesenian dan nilai-nilai budaya daerah merupakan unsur penting dari kebudayaan yang menjadi rangkaian kebudayaan nasional. Nilai-nilai dan cirri budaya kepribadian bangsa merupakan faktor strategis dalam upaya mengisi dan membangun jiwa, wawasan dan semangat Bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kebudayaan Lampung yang merupakan bagian dari budaya nasional dan sekaligus sebagai asset nasional memiliki sejumlah nilai dan norma sosial budaya yang melandasi pemikiran dan prilaku warganya. Berbagai ungkapan tradisional yang merupakan falsafah hidup yaitu : Piil Pesinggiri, Sakai Sembayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur dan Bejuluk Beadok merupakan contoh gambaran hidup masyarakat yang memiliki nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang luhur dan sangat penting untuk dipelihara, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus dan harus dipertahankan keberadaannya walaupun terjadi perubahan global.



Berdasarkan hal-hal sebagaimana tersebut diatas, dan mengingat kebudayaan Lampung termasuk didalamnya adat istiadat, falsafah hidup, sejarah, peristiwa sejarah lokal dan sejarah daerah serta benda-benda yang bernilai budaya merupakan kebanggaan daerah yang mencerminkan jati diri masyarakat, perlu dilakukan serangkain upaya-upaya dalam rangka memelihara, melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Lampung yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan peranan nilai-nilai budaya tersebut dan lembaga adat di daerah dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan, kelangsungan pembangunan dan peningkatan ketahanan nasional, serta mendorong upaya mensejahterkan warga masyarakat setempat sekaligus menunjang dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk turut serta bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara kebudayaan daerah.        
Masyarakat lampung mengenal berbagai macam upacara-upacara tradisional sebagai media penanaman nilai-nilai filosofis masyarkat Lampung yakni Piil Pesinggiri, Sakai Sembayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur dan Bejuluk Beadok. Penanaman nilai-nilai filosofis tersebut kepada generasi muda adalah hal yang sangat penting untuk dilaksanakan agar nilai-nilai luhur tersebut segera terwariskan di lingkungan generasi muda.
Salah satu upaya penanaman nilai-nilai filosofis kepada generasi muda ialah dengan pelaksanaan Festifal Ngarak. Dimana ngarak adalah salah satu prosesi begawi yang terdiri dari arak-arakan atau iring-iringan menghantar pengantin atau tamu agung menuju sesat atau tempat acara, yang dilengkapi dengan properti adat seperti pencak silat, tetabuhan, pedang tombak dan payung agung.

Minggu, 12 Juni 2022

'SEJARAH' GERAKAN PROVINSI BANTEN BUAH PENA WARTAWAN



















TULISAN
ini mungkin sekedar pengulangan masa lalu, apalagi ini mengenang sebuah perjuangan yang kerap menyentuh tokoh lama, yang sudah tua bahkan mungkin telah wafat. Bila beruntung mungkin sekarang sudah menjadi orang yang popular dan ada martabat. Tulisan ini, bias jadi hanya dicibir karena dianggap seolah membanggakan diri dan menyentuh rasa bagi sebagian orang yang mungkin dulu cuek tetapi kini mendapat berkah atas perjuangan orang orang yang pernah berjuang dan mungkin kurang seberuntung mereka. Gerakan Provinsi Banten yang berhasil ini, juga menimbulkan sentiment negative jika membuka dan membicarakannya. Karena ternyata, ada yang mencibir terhadap para pejuangnya. Mereka yang tidak suka dan mungkin sama sekali tidak ada sejarah memperjuangkan. Kerapkali menyindir Pejuang, seolah orang-orang yang tidak move on dan hanya terbuai romantisme masa lalu.

Buku ini, hanya mencoba mengupas seorang anak muda kisaran 27 tahun yang prihatin atas sebuah wilayah kota kelahirannya Banten.  Memberikan gambaran betapa seorang anak yang masih polos. Mampu membuat terperangah, untuk kemudian merealisasikannya. Meski tapak dan sisa perjuangan itu telah memudar karena zaman. Namun tidak ada salahnya kita melihat kegigihan Heri Ch Burmelli, yang terpanggil karena kota kelahirannya nyaris tidak terfikirkan pembangunannya oleh propinsi Jawa barat.

Kedatangannya ke Banten bukan dengan niat mengambil keuntungan. Kini dirinya hanya  berpuas hati telah melihat propinsi ini telah menjadi sebuah daerah yang sangat diperhitungkan. Namun dibalik semua itu, tiada salah bila kita belajar banyak dari pemikiran dan perjuangan anak muda berprofesi Wartawan Muda di PWI bernama Heri Ch Burmelli yang dengan tenaga dan kemampuan pers alakadarnya berupaya menggelorakan Propinsi Banten dengan sebuah Koran Mingguan yang ditapakinya dengan susah payah dan penuh  romantika.

Buku ini saya persembahan untuk anak keturunan juga inspirasi bagi wartawan lain. Agar jangan mudah menyerah dengan tantangan. Bikin hidup lebih hidup, berbakti dan berusaha kuat berguna untuk orang lain menjadi insan Rahmatan Lil Alamin.

Dalam kepekatan dan kurangnya pemahaman atas berdirinya sebuah  Propinsi  banyak pihak yang pesimis akan hadir dan terealisasi nya propinsi Banten.

Lontaran, cacian sebagai provokator pernah di alamatkan kepada Heri ch Burmelli --- sebuah kata yang nge tren kala tahun 1998 untuk memberi cap pada orang- orang yang menghembuskan isu negative mungkin bila saat ini dikatakan sebagai penyebar hoax.

"Apa apaan, kamu datang dari Lampung mau memecah belah Banten bikin-bikin isu provinsi. Kamu wartawan bisa menulis pakai pulpen kami di sini bisa menulis kamu dengan golok. Kamu jangan jadi provokator di sini, jangan main-main dengan tanah Banten," itulah kira-kira bahasa yang bisa saya rangkum ketika isu Provinsi Banten mulai hembuskan di koran Banten Ekspress.

 

Membicarakan Gagasan Provinsi Banten. ketika itu, seperti hal yang tabu. Maka tidak heran wacana ini mengagetkan banyak fihak.  Saya maklum, tidak sedikit pula wong Banten yang mendapatkan banyak keuntungan dari jauhnya rentang kendali antara Banten dan Bandung Jawa Barat.

Juga sebaliknya, banyak putra sunda  yang sebut dengan golongan  Korpri (Korp Priangan) asyik dan bersuka ria menikmati keuntungan dari jauhnya koordinasi ataupun  pengawasan Bandung Jawa Barat pada instalasi  industrialisasi  multinasional yang berkembang di Banten.

Bagaimana Heri yang masih baru lulus kuliah di IAIN Raden Intan ini mampu menggaet investor demi membuka Cakrawala dan wawasan Rakyat Banten yang terpasung dengan belenggu Propinsi Jawa barat kala itu.

Lika-likunya diawali dari 'minggat' nya Heri dari Lampung Menuju Banten dengan membawa media Lampung Ekpres. Sebuah koran daerah Lampung yang baru saja bekerja sama dengan Jawa Pos.

Sebagaimana untuk diketahui. Sebelum datangnya era reformasi di tahun tahun 1998. Pemerintahan era Orde Baru, untuk keluarnya izin dari SIUPP surat izin usaha penerbitan pers. Sangat-sangat sangat sangat sangat susah untuk didapatkan SIUPP baru, kalaupun bisa mendapatkan terlalu banyak rentetan izin dan persyaratan yang luar biasa susahnya. Bila tidak menyiapkan bajet miliaran rupiah, tidak bakalan keluar Surat izin itu.

Oleh karenanya Jawa Pos Grup yang sedang berkembang dalam kendali tangan dinginnya Dahlan Iskan bikin terobosan menggandeng koran daerah yang setengah urip dan bahkan yang sudah tidak berjalan. Yang penting punya SIUUP mereka gandeng untuk terbit kembali dalam manajemen yg baru JPNN.

Akan halnya provinsi Lampung hingga Era Orde Baru saat itu , hanya dua SIUPP disana. Pertama milik Bang Solfian Ahmad dengan nama Lampung Post, kedua SIUPP yang dikuasai oleh Bang Harun Muda Indrajaya dengan media Tamtama yang kemudian oleh Dahlan Iskan dirubah menjadi Lampung Ekspres. Bukan tanpa dasar, karena ternyata Jawa Post sudah lebih dahulu sukses dengan Bendera Sumatera Ekspres di Palembang. Saya sempat mengenyam pendidikan internal  tatkala menyambut datang merger antara koran Mingguan Tamtama dengan Jawa Post.  Meski ternyata setelah berjalan beberapa tahun saja,  penyatuan Tamtama dengan Jawa Post tidak berkembang sukses, sebagaimana yang diharapkan.

Singkat kata, perseteruan manajemen juga dibumbui  'offside' Bang Harun Muda Indrajaya yang secara masif 'buka sendiri' Koran di tanah Banten. Bernama Banten Ekspres tanpa izin Pak Dahlan. Makin kisruh, Akhirnya merger Jawa Post Lampung Ekspres pun bubar... jalan masing masing. Untuk Kemudian, dimasa keluarnya SIUPP dipermudah, tahun 1998 era Pemerintahan Presiden Gus Dur Abdurrahman Wahid. Dahlan Iskan melalui sahabat dekatnya Alwi Hamu mendirikan Koran Radar Lampung hingga saat ini.

Nah, kembali ke kisah 'gerakan ' heri ch burmelli___ seraya melihat potensi pasar dan membangun jaringan di Banten. Bersama dengan seorang fotografer Fery Indrawan, dirinya membuka Biro Koran Lampung Ekspres, dan sempat nge Kos di bilangan Masigit Cilegon.

Setelah hampir enam bulan, menyusun komposisi awak media dan konsultasi bersama Pimpinan Bang Harun Muda Indrajaya mengenai fasilitas dan permodalan. Pada tanggal 28 Desember 1998 Koran Banten Ekspres pun terbit perdana dijalan sultan Agung Bandar Lampung tepatnya di Percetakan Radar Lampung Sekarang.

Terbitnya media Banten Ekspres tentu tidak mudah. Butuh waktu meyakinkan Boss yang juga Guru, Bang Harun Mudajaya. Seorang Tokoh Pers dan Mantan Ketua Umum PWI Lampung. Sekira tahun 1998.  Demi menanggung biaya cetak dan fasilitas kantor juga karyawan. 'Buya' demikian Keluarga Besar LE memanggil. Bisa meyakinkan beberapa orang yang simpati dan memberikan donasi ke Koran Banten Ekspres. Kelima Sahabat dekat Buya itu antara lain Kang Jajuli Isa, Mas Eddy Sutrisno, Kyay Herwan Saleh, Pak Muchtar Sani dan Bang Nuril Hakim Yohansyah.

Besaran modal yang terkumpul dari para donatur Lampung ini, saya sama sekali tidak tahu. Namun, Buya Harun muda Indrajaya memerintahkan kepada saya untuk menempatkan komposisi mereka di box redaksi Banten Ekspress sebagai pengurus dari usaha koran ini. Ada yang menjadi pimpinan umum wakil pimpinan umum ada yang ditaruh sebagai pimpinan redaksi wakil pimpinan redaksi juga ada yang jadi pimpinan perusahaan dan wakil pimpinan perusahaan. Saya dinisbatkan mereka menjadi General Manager yang secara teknis mengelola koran tersebut dari minggu ke minggu untuk selalu terbit. Pembina dari adanya majalah pertama yang terbit di tanah Banten ini adalah sesepuh Banten yang saat itu sangat disegani yakni haji Tubagus Hasan sohib.. beliau merupakan tokoh Sentral dari berbagai pergerakan di tanah Banten. Ketokohan dari Haji Hasan sohib yang juga merupakan ketua Ormas terbesar kala itu yakni pendekar Banten yang juga dikenal dengan P3S bbi. Masuknya tokoh-tokoh beken ini tentu membawa dampak yang cukup signifikan atas isu-isu yang dikembangkan oleh Media Banten Ekspress.

Jaringan yang dibentuk dan dibina oleh Pak Harun dari Indrajaya, bukan hanya di daerah.

Koran Banten Ekpres Ternyata menarik perhatian para pemangku kebijakan. Dalam hal ini Departemen penerangan kala itu dipegang oleh menteri Yunus Yosfiah. Koran seumur jagung ini mendapat bantuan dari UNESCO agar mampu berkembang dan bermanfaat bagi khalayak. Saya coba meneliti Mengapa koran baru sumur jagung mendapat bantuan. Jawabannya cukup mencengangkan, koran Banten ekspres ini Dibantu karena sejak Negeri merdeka tidak terbit koran di daerah wilayah Banten baca: Serang Pandeglang Lebak dan Cilegon hal ini dibuktikan dari surat izin usaha penerbitan Banten Express adalah koran pertama yang memiliki siupp surat izin usaha penerbitan pers.

 

Misi Banten Express

Sebenarnya visi misi hadirnya Banten Express Provinsi Banten lebih merupakan menyuarakan suara rakyat Banten. Karena pada saat itu, infrastruktur juga public Space di wilayah Banten bisa dikatakan hancur lebur. Kurang terpikirkan oleh Jawa Barat akibat jauhnya rentang kendali antara Banten dan Bandung. Pada bagian lain infrastruktur dan public Space di dekat ibukota Jawa Barat nyaris sempurna dan baik. Kesenjangan pembangunan, secara otomatis menimbulkan rasa ketidakadilan. Oleh karenanya, hadirnya wacana Provinsi Banten yang digunakan oleh koran pertama di tanah banten-banten Express adalah sebuah momentum dimulainya perjuangan merealisasikan hadirnya Provinsi Banten. Demi sebuah keadilan juga pemerataan pembangunan. Pada Lini ini idealisme dari hadirnya koran Banten Express adalah sebuah tuntutan dan kebutuhan dalam keragaman gelorakan semangat suara rakyat Banten. Meski pada kenyataannya untuk Nasib orang Banten Express jauh dari harapan dan idealnya sebuah perusahaan pers. Karena apa, mendekati persiapan demi persiapan terbentuknya Provinsi Banten pemain-pemain media yang lebih profesional dari kami serta merta mereka turun gunung Untuk menggarap tanah Banten yang begini subur dari tanaman media yang harus dimulai. Dalam suasana krusial yang demikian itu, Kami para awak media di Banten Express dihadapkan pada suatu situasi yang cukup sulit. Karena ternyata, awak media kami di preteli satu persatu oleh pemain-pemain besar itu.

 

Rubrikasi dan Puncak Gunung Es

Tagline koran Banten Ekspres, Suara Rakyat Banten. Kami pilih karena, melihat kurangnya saluran hati nurani warga yang tersalur melalui media massa. Tahun segitu, belum familiar ada SMS, Bluebarry, fesbuk juga media sosial.

Koran  Televisi dan Radio masih menjadi raja penyaluran suara warga. Kalaupun ada, terbukanya saluran informasi, adalah merdekanya para penggiat pers untuk menerbitkan Media Massa. Bagai, jamur dimusim hujan, koran, majalah, tabloid tumbuh dimana-mana. Akibat regulasi yang sangat amat berbelit untuk mendapatkan SIUPP dalam jangka waktu tak lebih satu tahun, ratusan Media cetak  terbit dimana-mana. Saya, merasakan betul untuk membuat surat izin tersebut, Kantor Kementerian Penerangan bak kantor kelurahan ramainya wartawan atau pekerja Pers dari berbagai Propinsi penjuru negeri berlomba adu cepat mengurus izin. Yang dahulunya hanya mimpi klo mau dapet SIUPP.

 

Melalui torehan pena dan proyeksi heri ch Burmelli, meski dengan SDM crew Banten Ekspres (BE) yang masih coba-coba jadi wartawan, pria berperawakan bulat ini terus menerus menggelorakan Propinsi Banten.

Proses rekruitmen anak-anak Banten Ekspres kala itu, dimulai dari satu orang bernama Iskandar. Saya ingat, Kandar kala itu, tengah dalam situasi galau tingkat tinggi sang istri kabur membawa serta anak semata Wayang nya Wendi. "Gua pulang ke Lampung ajalah Her, mau bertani. Ngapain gw di Banten ini" tukas pria kelahiran Krui Pesibar tersebut. Alhasil, saya yakinkan untuk coba bertahan menggerakkan usaha Koran Banten Ekspres. Ternyata Kandar cukup berhasil, mantan Direktur Iklan Radar Banten itu, kini nyaman membuka kedai Abah Jenggot juga berbagai cabang usaha lain dan mempersunting perempuan dari Palamunan Kramat Watu dan bermukim disana, Wendi Anaknya berhasil diasuhnya kembali  di Kuliahkan dan kini bersamanya.

Bukan hanya Kandar, adiknya Anton kini masih tetap berkarya  di Radar Banten Grup dimana sebelumnya saya latih menjadi layoutman di Banten Ekspres.

Beberapa nama 'beken' di Banten yang juga pernah lama mampir di Banten adalah kini menjadi Sastrawan Ibnu Ps Megananda. Syair Asiman, Alamsyah Rachmis, ......... dan banyak lainnya.

Termasuk diantaranya Mashudi Masteng yang kini menjadi Pemimpin Redaksi dan kini direktur di Radar Banten sempat juga menjadi reporter di Koran Banten Ekspres.

Mereka, berhasil di 'culik' oleh Group Jawa Pos Radar Banten yang kala itu masih bernama Koran Harian Banten.

Sepupu saya pun  Ridwan yang saat itu masih menjadi Layoutman di Banten Ekspres harus saya relakan untuk eksodus pula.

Ibarat kapal, koran Banten Ekspres kala itu, terlalu lamban dan tidak sesuai dengan dinamika yang lazim. Awak medianya, dirayu untuk pindah ke Media baru yang lebih profesional manajemennya. Saya sangat menyadari hal itu.

Bahkan saya persilahkan. Mereka izin pamit semua keluar dari Banten Ekspres. Ada yang ke Grup Fajar Banten, milik Pak Atang Ruswinta tak sedikit yang boyongan ke Harian Banten / Radar Jawa Pos.

Saya sendiri, dibiarkan. Karena jelas saya adalah anak Ideologi Buya Harun Muda Indrajaya yang juga kecipratan dosa dimata manajemen Jawa Pos.

Sebuah konsekuensi akibat terbawa arus kegagalan mereka bermerger di Harian Lampung Ekspres. Ya sudahlah.... saya sama sekali tidak kecewa. Karena ditahun tersebut juga harus melepas masa lajang saya menikahi wanita pilihan Emak. Untuk Kemudian, larut dalam suasana bahagia pengantin baru.

MUNCULNYA  GELORA ISU PROVINSI BANTEN

Sebenarnya pencerahan timbul setelah diberitahukan  oleh Ayahanda saya.

Drs. Buchari Rahman pensiun Sebagai Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Agama Banten. yang notabene suku Lampung namun sudah hafal dan fasih berbahasa Sunda. Hingga akhirnya mempersunting anak mantan Bendaharawan Wedana Ciomas  Tb. H. Mukri .

Lewat semangat sang ayah inilah, Heri yang masih meraba berupaya bertanya kesana kemari menemui ‘pejuang’ lama Propinsi banten yang digagalkan dizaman Orde Lama. Heri muda lalu diantarkan wartawan senior Banten Lukman hakim yang akkrab dipanggil Lucki.

Melalui Luky wartawan sepuh  Banten tapakan demi tapakan pejuang pendahulu propinsi ini mulai diurai satu persatu.

Uws Qorni adalah salah satu yang pertama disambangi kedua insane pers ini. Melalui Uwes gagasan pemikiran dan hambatan perjuangan propinsi Banten makin memperoleh spirit. Tak kalah dengan Uwes Qorny. Hi Kasmiri seorang pendekar banten yang menjadi sekeretaris DPP PPPSBBI juga banyak memberikan wawasan dan pemahaman akan pentingnya segera membuka wacana Propinsi Banten.

Jejak sejarah yang sederhana ini mulai ditorehkan Heri ch Burmelli dan para crewnya yang masih belajar untuk menggelorakan ide pembentukan Propinsi banten.

Rubrik husus pun dibuat dengan Bahasa Benten Yes… seakan memberikan pesan bahwa Rakyat banten sudah demikian berminat memisahkan diri dengan Propinsi. Banten.

Ide- ide nakal Heri Ch Burmelli  bukan hanya sampai disini, dalam keadaan tertatih karena disatu sisi juga harus  bertahan menghidupi koran dengan  tiras yang terbatas guna memberikan ruang kepada pihak-pihak yang kontra terhadap ide dan gagasan Propinsi Banten.

Dalam rubrikasi Banten Yes, sengaja ditampilkan antara pendapat yang pro dan kontra berikut alasan atau bahkan tanpa komentar.

Ibarat Pooling ternyata, rubrikasi makin lama semakin seru dan mendapat respon yang banyak dari khalayak.  justru lebih banyak yang pro terhadap ide cemerlang tersebut. Mahasiswa Banten yang berada di Bandung pun ternyata mulai terpancing dan bergerask menggelorakan gagasan pembentukan  propinsi Banten.

Demo gedung sate puin tidak terhindarkan. Dalam ranah ini ternyata respon Mahasiswa terhadap perjuangan banten ekspres makin menggelora. Mereka tak sungkan-sungkan menyampaikan hasail gerakan ke BNTEN Ekspres. Kian hari duikukngan penyampaian dan wacana makin  melebar. Oreaganisasai LSM dan berbagai ormaspun kian hari mulai melirik isu propinsi sebagai isru yang bisa merebut hati orang banyak. Tak terkecuali parpol yang tak sungkan menggunakan momentum Propinsi banten.

Persiapan demi persiapan pun disusun, GPRI Gerakan Pemuda Reformasi Indonesia, meruapakan salah satu Gerakan pemuda banten yang sigap menyambut hadirnya Propoinsi ini.

Heri Ch Burmelli diundang dalam rapat oleh Agus Najiullah, Aeng Haerudin, Udin Saparudin dkk  di Kepandean, dan dijadikan panitia pengarah. Idenya merumuskan lebih besar atas gagasan propinsi  bantejn dalam sebuah forum yang lebih elegan. Digagaslah pertemuan di Hotel Patra Jasa Anyer. Dalam kesempatan itu Yusril Ihza Mahendra diundang untuk memberikan wawasan tentang ide dan gagasan Proopinsi banten. Secara kebetulan, Ketua Umum partai PBB yang juga anggota DPR MPRI ini,  tengah sibuk menyiapkan hal yang sama pembentukan propinsi Kepulauan Riau.

lanjutkan..... dikisah________  


Mobil Di Lempar Orang Gila

SDM MEDIA ASAL COMOT

Mendapat Bantuan UNESCO

EKSODUS KE  RADAR  HARIAN BANTEN

MENIKAH TAHUN 2000 PULKAM SEJENAK

BANGKIT KEMBALI BANTEN POST

MENETAP ISTIQOMAH DI LAMPUNG

PENDEKAR BANTEN KENANGAN DAN KIPRAH











Rabu, 08 Juni 2022

Masjid Al Bakrie Membeli Romantisme masa lalu

Di era kemajuan Millenium saat ini, terjadi banyak perubahan yang maha dahsyat baik itu dari sisi gaya hidup dan berbagai fasilitas telekomunikasi yang tersedia. Meskipun eksistensi juga tata nilai sudah banyak berubah. Ternyata kehidupan yang terus bergulir, menimbulkan romantisme masa lalu.

Salah satu yang kita bisa lihat dari mobilitas masa lalu adalah romantisme pulang kampung atau mudik. Berjuta-juta warga Indonesia, pemeluk agama Islam. Pada saat datangnya hari lebaran mereka berduyun-duyun pulang ke kampung masing-masing untuk menemui sanak keluarga di kampung berkumpul membawa anak istri dan keluarga. Moda transportasi pun berjuta macam ragam kendaraan baik kendaraan roda dua hingga roda empat. Dampaknya sungguh luar biasa, kemacetan di mana-mana. Pertumbuhan ekonomi untuk sementara masuk ke desa. Para pemudik membelanjakan hartanya di daerah asal mereka. Bersukaria bersama sanak family kampung di mana mereka pernah bercengkrama. Itulah romantisme itulah mimpi yang selama ini belum terbeli.

Romantisme masa lalu itu membawa dampak yang luar biasa terhadap daerah. Apabila pemerintah daerah juga merespon cita rasa romantisme masa lalu dari putra-putra daerah yang berhasil sukses luar sana.

Hari-hari ini publik Lampung diwarnai dengan sedikit pro dan kontra akan adanya pembangunan masjid..........
Tentunya ini sebuah kabar yang baik. Putra-putra daerah Lampung yang sukses dan berhasil di luar sana, sudah mulai melirik untuk pulang kandang bersama membawa romantisme romantisme masa lalunya di daerah asal. 

Seiring berjalan usia hati Sanubari seorang Aburizal Bakri tergerak membangun sebuah karya monumental di sebuah wilayah yang juga sangat berkesan. Wilayah itu bernama lapangan Enggal.
Banyak yang setuju atas ide gagasan Pembangunan Masjid Al Bakrie yang ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Lampung tertanggal 28 Februari 2020. Adapun isi surat tersebut menginformasikan bahwa Yayasan Bakrie Amanah berencana akan membangun masjid yang termegah di Provinsi Lampung sebagai fungsi tempat ibadah dan pengembangan budaya Islam bertempat di Kecamatan Enggal Kota Bandar Lampung, yang saat ini lokasi tersebut telah ada Gelanggang Olahraga (GOR) Saburai dan Taman Gajah (elephant Park). 

Meski demikian tidak sedikit pihak yang menentang atau keberatan dengan rencana tersebut. Meskipun. Saya ikut mempelajarinya, ternyata keberatan warga itu bermuara kepada romantisme masa lalu juga..... Beberapa suara yang kurang setuju tersebut, dengan alasan terbangunnya Masjid Al Bakrie dikhawatirkan menghilangkan romantis masa lalu bahwa lapangan Enggal begitu berkesan bagi warga kota Bandar Lampung. Gelanggang Olahraga Saburai, Pasar Seni  dan Taman Gajah (Elephant Park) merupakan space public atau icon public yang memiliki riwayat dan cerita panjang bagi tiap generasi yang ada di Bandar Lampung. 

Pertentangan lain, Mengapa Masjid Al Bakrie harus dibangun di Enggal yang penuh sejarah bukan di tempat lain yang juga yang memberikan multy efek terciptanya wilayah  keramaian baru. Karena Enggal sudah begitu padat dan sudah ramai. 

Misalkan Masjid Megah gagasan dan keinginan Aburizal Bakrie ini dibangun di
Sukaraja misalnya, di pinggir pantai Teluk Lampung tentu mungkin akan lebih eksotis dan membuat sebuah suasana baru untuk dikunjungi. 

Dalam sebuah kesempatan Gubernur Lampung Pak Arinal Djunaidi sangat mengapresiasi keinginan dari tokoh nasional Aburizal Bakrie yang merupakan Putra Lampung untuk membangun sebuah masjid yang sangat megah di wilayah yang begitu keren di lapangan Enggal. Kembali kepada romantisme masa lalu yang harus dibeli oleh Aburizal Bakrie sebagai putra daerah Lampung dan pemilik Bakrie Brothers yang ternama. 
Tidak mudah meyakinkan 'kembali membangun' kampung halaman. Itu, ringkas Pak Gubernur ber 'Jaya' ini.

Owner berbagai perusahaan multinasional itu, Ternyata tak kuasa untuk menahan  kembali pulang ke Lampung untuk membayar romantisme masa lalu dari Ahmad Bakrie asal Ayahanda beliau yang merupakan suku Lampung tulen. Tabikpuuun.








Jurus 'Dewa Mabuk' Gubernur Lampung



GUBERNUR ‘ GAYA KOBOY’ PROPINSI LAMPUNG
ROLLING PEJABAT BESAR-BESARAN
KANGKANGI PERATURAN PEMERINTAH


Entah apa yang ada dibenak Syamsurya Ryacudu. Sejak dilantik oleh Mendagri Mardiyanto sebagai Gubernur Lampung, menggantikan Sjachroedin ZP yang ‘turun gelanggang’ untuk mencalonkan kembali.
Syamsurya Ryacudu yang sebelumnya menjabat Wakil Gubernur, langsung bikin gebrakan rolling pejabat besar-besaran. Seakan menyimpan dendam, pada Kepala Dinas dan pejabat yang kurang ‘menghargai’ nya saat menjadi Wagub. Dalam waktu kurang dari 10 hari mulai ‘dibantai’ dengan istilah mutasi, diberhentikan bahkan tak sedikit yang di non job kan.
Dalam kurun waktu satu bulan, Sejak 2 juli 2008 hingga saat ini. Syamsurya Ryacudu telah melakukan rolling sebanyak 3 kali.
Pertama, Senin tanggal 7 Juli 2008, Syamsurya Ryacudu memindahkan posisi 8 pejabat, memensiunkan 4 pejabat sekaligus menon job kan 4 eselon II.
Kedua, Jum’at tanggal 18 Juli 2008, menon job kan 13 pejabat eselon II sekaligus melantik 32 pejabat pada beberapa dinas.
Ketiga, Syamsurya Ryacudu merolling 48 pejabat eselon II, III dan IV.
Dalam beberapa kesempatan Syamsurya Ryacudu, kerap mengatakan akan menghabiskan ‘orang-orang’ Gubernur sebelumnya. Benar tidaknya sinyalemen tersebut. Dijawab dengan kenyataan dilapangan.
Ironisnya, tidak sedikit para pejabat dari daerah salah satu Incumbent utamannya Lampung Selatan yang masuk ke Provinsi. Menjadi pertanyaan banyak pihak, adanya eksodus pejabat dari Kabupaten tersebut. Oleh karenanya beberapa pengamat mengatakan bahwa selain untuk memutus mata rantai Sjachroedin ZP yang ikut dalam pertarungan Pilgub. Syamsurya sebagai Gubernur juga menjadi ‘pemain’ bagi salah satu pasangan calon pada Pemilihan Gubernur Lampung.
Celakanya, menurut Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Depdagri Saut Situmorang mengakui bahwa kebijakan mutasi pegawai yang dilakukan Syamsurya belum pernah dikonsultasikan kepada Mendagri. Menurutnya, mutasi pejabat hanya dapat dilakukan gubernur atas persetujuan Mendagri, Gubernur pengganti tidak boleh melakukan hal-hal yang bersifat fundamental dan radikal.
Pernyataan Kapuspen Depdagri sesuai dengan PP 49/2008 dan Perubahan Ketiga PP 6/2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Dalam pasal 132 ayat 1 PP itu disebutkan bahwa kepala daerah yang menggantikan kepala daerah yang mengundurkan diri untuk mencalonkan gubernur tidak diperkenankan memutasi pegawai atau membatalkan perizinan, yang bertentangan yang dikeluarkan pejabat sebelumnya.
Prilaku Syamsurya Ryacudu yang mengangkangi Peraturan Pemerintah No 49/2008 jelas-jelas merupakan kesalahan mendasar yang tidak termaafkan. Selain telah mengganggu roda pemerintahan provinsi Lampung – juga merusak sistem kepegawaian secara umum.
Karenanya, bila melihat sepak terjang Syamsurya, justru memperlihatkan arogansi seorang penguasa dan para pejabat diibaratkan hanya sebagai patung yang tidak memiliki posisi tawar sama sekali. Penilaian dan pembinaan pejabat hanya didasarkan pada like and dislike bukan karena prestasi kerja.
Kondisi ini bukan mutlak kesalahan Syamsurya Ryacudu sepenuhnya, Sekda Propinsi Lampung Irham Djafar Lan Putera yang juga sebagai Ketua Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan) juga menjadi pihak yang paling bertanggung jawab. Bagaimanapun Irham Djafar Lan Putera mempunyai andil ‘pengkajian’ atas pejabat-pejabat yang ditempatkan sebelumnya. Bukan lalu menjadi tukang stempel maunya Gubernur. Hal ini memperlihatkan tidak bisa menjadi dinamisator dan katalisator birokrat Lampung menyikapi ‘ambisi’Gubernurnya, termasuk memperlihatkan kualitasnya yang tidak ‘PAS’ untuk jabatan seorang birokrat nomor wahid di Propinsi Lampung.
Fungsi Sekda yang juga Ketua Baperjakat, selayaknya bukan ABS (Asal Bapak Senang) – Ketika Gubernur terdahulu menjabat pakai si A – Gubernur hari ini menjabat pakai si B buang si A dan Besok dengan Gubernur yang lain pakai si C buang yang B.
Oleh karenanya Mendagri harus mengambil sikap tegas atas, semua kesewenang-wenangan pejabat. Bila tidak, birokrasinya bukan melayani rakyat, tapi terdidik menjadi para penjilat atasan.

Heri Ch Burmelli, Lampung

Senin, 23 Juni 2014

RIDHO DILANTIK

  majalah LAMPUNG Bung
  majalah ini merupakan bacaan para pengambil kebijakan Provinsi Lampung
  Berpengaruh, Bernash dan menginspirasi Pembacanya....
  untuk berlangganan dan iklan hubungi  Ruli  0811 7216009


Selasa, 23 Oktober 2012

PILGUB LAMPUNG

HERI CH BURMELLI SYNDICATE
BANNER ACARA DISKUSI DAERAH
DISELENGGARAKAN KPKAD DAN LEC


ACARA DISKUSI DAERAH
BEDAH PILGUB LAMPUNG
MASA BAKTI KPU HABIS, DIPERTANYAKAN ?
PILGUB LAMPUNG 2013 ATAU 2015


Beberapa bulan terakhir ada bahasan yang menarik tentang jadwal pemilihan Gubernur Lampung apakah dilaksanakan pada 2013 atau 2015. Tarik menarik jadwal ini mengingat bahwa jabatan Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin ZP berakhir pada tanggal 2 Juni tahun 2014, karena habis masa jabatannya berbarengan dengan pemilihan presiden (Pilpres) maka ada dua opsinya yakni dimajukan pada 2013 atau dimundurkan pada 2015 setelah selesainya Pilpres dan Pemilihan anggota Legislatif (Pileg). Namun menariknya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung tetap mendesak agar pilgub diadakan pada Oktober 2013.

Pernyataan bapak Gubernur Lampung dimedia beberapa hari ini pun cukup menggelitik dan perlu juga dikritisi bahwa “Bapak Gubernur mendukung Pilgub 2013 tetapi dengan syarat KPU diganti karena bermasalah”. Dari pernyataan ini, Komite Pemantau Kebijakan dan Anggaran daerah (KPKAD) dan Lampung Education Club (LEC) mencoba meretas dan membuka tabir apa sesungguhnya yang melatar belakangi pernyataan tersebut, al hasil setelah KPKAD dan LEC melakukan investigasi dan mempelajari hal ini dengan seksama maka dapat diambil benang merahnya bahwa “penyelenggara Pilgub (KPU Lampung) pada tahun 2013 habis masa jabatannya yakni bulan September 2013, selain itu diduga ada beberapa komisioner KPU dinilai tidak memiliki krebilitas dalam penyelenggaraan Pilgub 2013 oleh karena perlu dilakukan penggantian komisioner KPU yang baru”.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 15 tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, Di dalam BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 Angka (5) dijelaskan bahwa “Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri atas Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Presiden dan Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat, serta untuk memilih gubernur, bupati, dan walikota secara demokratis”. Lebih lanjut di dalam Pasal 1 angka (7), dijelaskan bahwa “Komisi Pemilihan Umum Provinsi, selanjutnya disingkat KPU Provinsi, adalah Penyelenggara Pemilu yang bertugas melaksanakan Pemilu di provinsi”

Rencananya Pilgub 2013 akan menelan biaya sebesar ± 200 Milyar rupiah (ajuan KPU Lampung), dana yang dinilai jumlahnya cukup fantastis. Dengan besaran dana yang ada artinya proses pelaksanaan Pilgub Lampung harus memenuhi asas penyelenggara Pemilu sebagaimana yang dijelaskan dalam Bab II Pasal 2 UU No. 15 Tahun 2011 yakni berpedoman pada asas mandiri, jujur, adil, kepastian hukum, tertib, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas.
Dengan kata lain, dukungan dana yang begitu besar untuk mengadakan Pilgub Lampung harus diimbangi dengan “kepastian Hukum”, yang dimaksud dengan kepastian hukum dalam hal ini adalah penyelenggaraan Pilgub harus bebas dari persoalan-persoalan atau gugatan – gugatan hukum masyarakat yang dapat membatalkan hasil Pilgub oleh KPU karena alasan keabsahan hukum komisioner KPU (penyelenggara).

Menurut hasil investigasi, masa jabatan Komisioner KPU Lampung akan berakhir pada bulan September 2013, al hasil berdasarkan UU No 15 tahun 2011 mengenai Pengangkatan dan Pemberhentian  KPU Provinsi Pasal 17 Ayat (6) yang menjelaskan bahwa Pembentukan tim seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan KPU dalam waktu paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak 5 (lima) bulan sebelum berakhirnya keanggotaan KPU Provinsi.
Dari dasar peraturan ini, KPU Lampung harus sudah menggelar tahapan pembentukan tim seleksi Komisioner KPU yang baru di mulai pada April tahun 2013. Sejauh ini, terkait perpanjangan keanggotaan KPU juga belum diatur secara jelas dalam Undang-Undang ini, yang ada hanya Ketentuan Peralihan yakni Pasal 130 UU No 15 tahun 2011 Ayat (2) yakni Dalam hal keanggotaan KPU Provinsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum berakhir masa tugasnya pada saat berlangsungnya tahapan penyelenggaraan pemilihan gubernur, masa keanggotaannya diperpanjang sampai dengan pelantikan gubernur terpilih dan pembentukan tim seleksinya dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah pelantikan gubernur terpilih.

Penulis
Ansori, SH.MH
Koordinator Presidium
Komite Pemantau Kebijakan dan Anggaran Daerah
(KPKAD)